Monday, January 11, 2010

Tumbuh di Antara Pesepakbola Profesional


BERBICARA tentang sosok Robby Darwis yang menjadi legenda hidup Persib, tampaknya tak akan cukup ditulis dalam satu buah buku, apalagi dalam satu tulisan singkat. Banyak kisah menyertai perjalanan panjangnya sebagai pesepakbola maupun sebagai pelatih.

Namun dari segudang pengalamannya sebagai pesepakbola, ada secuil kisah yang cukup menarik dari pria kelahiran Lembang 31 Oktober 1965 ini. Selama kurang lebih 11 tahun, dari 1986-1997, Robby menjadi anggota skuad timnas Indonesia. Suatu prestasi tersendiri bagi pesepakbola amatir di dunia.

Ya di antara rentang waktu itu, Robby menjadi satu-satunya pesepakbola amatir yang memperkuat timnas Indonesia. Boleh dikata pria yang kini menjadi asisten pelatih tim Persib senior ini, menjadi satu-satunya pesepakbola amatir yang terselip di antara pesepakbola profesional di timnas Indonesia.

Seperti diketahui pada kurun waktu itu sepak bola di Indonesia dibagi dalam dua kutub. Satu kutub sepak bola profesional yang diwujudkan dalam satu kompetisi bernama Galatama. Satu kutub lagi sepak bola amatir yang diimplementasikan dalam satu kompetisi bernama Perserikatan.

Nah, Robby berada kompetisi perserikatan karena selama itu ia tetap membela Persib yang ketika itu merupakan salah satu klub amatir di Indonesia. Terkait pilihannya untuk tetap membela Persib, di tengah gencarnya banyak klub profesional mengincarnya, belakangan diketahui hal ini lebih karena faktor idealisme.

“Saya dibesarkan oleh Persib, ini yang nggak mungkin saya lupakan. Selain itu saya lahir di Bandung, jadi saya ingin mengharumkan nama Bandung khususnya dan Jawa Barat. Sejak dulu hati saya memang condong ke Persib,” tutur Robby.

Menjadi satu-satunya pesepakbola amatir di timnas Indonesia, tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi suami Suci Guntari ini. Robby pun mengaku tak merasa minder meski dikelilingi pesepakbola profesional. Rekan-rekan di timnas pun menghormatinya karena skil dan kemampuan Roby sebagai pesepakbola memang mumpuni.

Saat itu kehadiran Robby di timnas secara tidak langsung membawa pesan bahwa klub perserikatan tak bisa dianggap enteng. Seiring perjalanan waktu, kini klub perserikatan pun berubah wajah menjadi klub profesional. Dan dari sejumlah klub yang bertarung di Liga Super Indonesia kali ini, ternyata mayoritas berasal dari klub perserikatan. (san)

Eropa Mah Bebas Pisan Euy
MENJADI pemain timnas Indonesia selama 11 tahun, tentu banyak pengalaman yang diperoleh. Dari sisi teknis permainan sepak bola pasti semakin kaya, terlebih selama rentang waktu itu Robby silih berganti dipoles pelatih andal. Mulai dari Sinyo Aliandoe hingga pelatih asal Rusia, Anatoly Polosin, pernah menggemblengnya di timnas.

Dan jika bicara hal itu rasanya tak akan ada habisnya. Namun dari sekian lama menjadi anggota timnas, yang paling berkesan bagi Robby tentu kesempatan menginjakan kaki di sejumlah negara yang berada nun jauh di sana.

Beberapa negara di Eropa seperti Jerman, Belanda, Italia, Yunani, hingga Ceko pernah disambangi ayah empat anak ini. Tentu kesemuanya itu dalam rangka main bola. Entah untuk mengikuti pemusatan latihan atau training centre (TC) maupun untuk mengikuti satu pertandingan.

Lantas apa yang membekas dan tak pernah lupa hingga kini selama dirinya melawat ke Eropa, menurut Robby yang paling membekas adalah gaya hidup bebas yang diterapkan orang Eropa.

“Wah gila di Eropa mah bebas pisan euy. Urang jadi sok era sorangan. Begitu membuka pintu hotel aja kita sudah melihat yang aneh-aneh. Pokona mah poek lah, khusus untuk konsumsi orang dewasa ha.ha.ha.,” tutur Robby. (san)

Korea Utara Serba Diatur
TAK banyak orang dari negara mana pun bisa masuk ke Korea Utara (Korut). Satu dari segelintir orang yang pernah menginjakan kaki di negara komunis itu adalah Robby Darwis. Bagi pria bertubuh tinggi besar ini tentu hal itu sangat membanggakan.

Saat itu awal tahun 90-an Robby bersama rombongan timnas harus berhadapan dengan timnas Korut pada ajang Pra Piala Dunia. Satu kesempatan besar yang sangat langka untuk bisa masuk ke negara yang paling tertutup di dunia itu.

Ngomong-ngomong apa sih yang aneh di Korut? “Wah di Korut mah serba diatur. Minum teh aja semua harus sama satu cangkir nggak boleh lebih. Dan gilanya volume air di cangkirnya juga sama rata,” ungkap Robby.

Selain itu Robby kerap menemukan di jalan-jalan Kota Pyongyang, ibukota Korut, orang yang berjalan kaki terlihat seperti orang sedang baris. Dan suasana lingkungannya pun terkesan kaku. “Tertib dan rapi, jiga nu keur baris-berbaris,” tuturnya.

Di Korut pula, ia merasa kesulitan mencari makanan. Di negara Kim Jong Il itu jarang ditemukan rumah makan. “Kita makan yang sudah disediakan di hotel aja,” ujarnya.

Hal yang sangat berbeda Robby temukan di Amerika Serikat dan Hongkong yang pernah beberapa kali ia sambangi. “Wah lamun di Amerika sagala aya. Hayang naon wae, pasti aya {Di Amerika, semua tersedia, Red),” tutur Robby sambil tersenyum. (

Robby Facts
• Lahir: Lembang 31 Oktober 1965
• Istri: Suci Guntari
• Anak: - Canigia Fikri Robiana -Careca Raka (alm) - Ratu Najra (Bulan) - Ratu Najdah (Bintang)
• Ayah: Edi Supriadi
• Ibu: Elice Portier
• Kakak: Raniyati
• Adik: Roy Darwis
• Klub: - Arjuna - Pesma - Isuda - Setia - Jarum -Persib - Kelantan Malaysia
• Prestasi: - Tiga kali membawa Persib juara Perserikatan (1986, 1989, 1990) - Satu kali membawa Persib juara Liga (l993) - Merebut Piala Sultan Hasanah Bolkiah bersama Timnas, Brunei (1994) -Bersama Timnas merebut medali emas Sea Games di Jakarta (l987) dan Sea Games Manila (l991) - Merebut sepatu emas untuk gelar pemain terbaik Indonesia (l987)

Source: http://tribunjabar.co.id

No comments:

Post a Comment

tambah commentnya juga.